Inilah Tokoh Muslim Yang Ditakuti Obama

Diposting oleh Boe--DhY cUtE on Senin, April 27, 2009 komentar (0)


Kalau George W Bush (presiden Amerika Serikat yang lalu) takut pada Osama bin Laden dengan terornya, lain halnya dengan Barack Obama (presiden AS sekarang).

Mungkin presiden yang pernah tinggal di Indonesia ini tahu bahwa meskipun terorisme sedang “turun daun” (lawan kata dari “naik daun”), Islam justru sedang naik-daun di Barat. Sebab, turun daunnya terorisme itu ternyata diiringi dengan semakin pahamnya orang-orang Barat bahwa Islam tidaklah identik dengan terorisme. Maka naik daun jugalah tokoh muslim yang gencar menyuarakan perdamaian di Barat itu sendiri. Begitu takutnya Obama pada tokoh kita ini, sampai-sampai Obama menghalangi masuknya dia ke wilayah AS, bahkan walau tidak membawa senjata sama sekali. Padahal, di negara-negara Barat (Eropa) lainnya, dia bebas keluar-masuk.

Mengapa Obama ketakutan? Pepatah bilang, “pena itu lebih tajam daripada pedang” atau “tulisan itu lebih mematikan daripada senjata”. Dengan kata lain, kekuatan kata-katanyalah yang ditakuti oleh Obama. (Begitulah menurutku. Wallaahu a’lam.)
Mengapa kata-katanya menakutkan? Sebagaimana dikutip oleh swaramuslim.net,

Majalah L’Express menerangkan bahwa dialah tokoh yang memelopori gerakan politik Islam di Eropa. Dialah tokoh muda yang semakin diterima luas, baik di kalangan Muslim maupun non-Muslim, karena pandangan-pandangannya tentang posisi ummat Islam di benua itu. Majalah tersebut juga menyatakan keheranannya bagaimana caranya ‘pria Muslim yang tampan’ ini mengambil hati dan mempengaruhi pikiran warga Perancis dan mendapatkan banyak perhatian dari media massa.


Siapakah tokoh kita ini? Dialah yang oleh majalah Time dinobatkan sebagai one of the 100 most important innovators of the 21st century (satu dari 100 inovator terpenting Abad 21). Namanya: Tariq Ramadan, cucu Hasan al-Banna (pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin). Profilnya dapat kita simak di Wikipedia.


Oh ya, di sini aku bukan hendak mempertentangkan antara Islam dan AS. Aku semata-mata bicara masalah politik. Aku cuma heran, mengapa Obama mencekal Tariq Ramadan. Padahal, sebagaimana disebut oleh majalah Time, dia itu bukan penentang Barat, melainkan jembatan antara Timur (Islam) dan Barat (Kristiani

Atasi Kanker Serviks dengan Minyak Jelaga & Ramuan

Diposting oleh Boe--DhY cUtE on Senin, April 27, 2009 komentar (0)

MENURUT data, kanker serviks adalah pembunuh nomor 1. Kanker ini paling sering ditemukan di antara penyakit ginekologi. Di dunia, setiap 2 menit seorang perempuan meninggal karena kanker ini.

Musuh terbesar seorang perempuan adalah kanker mulut rahim.
Kanker mulut rahim itu adalah kanker yang terdapat di serviks uterus, daerah organ produksi perempuan yang merupakan pintu masuk ke arah rahim, terletak di antara rahim dengan liang vagina.

Menurut penelitian terbaru, salah satu penyebab kanker mulut rahim adalah virus HPV (Human Papilloma Virus). Virus ini menjangkiti perempuan jika pasangannya mengidap virus tersebut. Perempuan perokok pun sangat rentan terhadap kanker mulut rahim karena nikotin mempengaruhi selaput lender.

Gejala-gejalaKeputihan yang lama, bahkan sampai mengeluarkan bau, dan terjadinya perdarahan pada saat melakukan hubungan seksual merupakan salah satu gejala kanker mulut rahim.
Pada stadium awal, kanker mulut rahim sulit terdeteksi.
Pada tahap displasia sampai stadium 1, praktis tidak ada keluhan. Keluhan baru muncul pada stadium 2 dan 3. Pada stadium 4, sel kanker mungkin sudah menjalar ke otak, paru-paru dan beberapa organ tubuh lainnya.

Hampir 90 persen kanker mulut rahim itu terdapat di epitel permukaan, di mana ditemukan keadaan yang disebut pembakal kanker mulut rahim atau prakanker, mulai dari yang ringan sampai yang menjadi karsinoma in situ atau stadium nol. Semuanya dapat didiagnosis dengan screening.

Pada stadium awal, sel kanker bisa menyebar ke daerah mulut rahim. Kondisi prakanker sampai karsinoma in situ sering tak menunjukkan gejala karena berada dalam lapisan epitel dan belum menimbulkan perubahan yang nyata.
Pada stadium kedua, gejala yang timbul adalah keputihan, perdarahan pascasanggama dan keluarnya cairan encer dari vagina. Jika sudah invasif, akan ditemukan gejala seperti pendarahan spontan, keluar keputihan dan rasa tak nyaman pada saat akan melakukan hubungan seksual.
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya sel kanker, baik langsung maupun tak langsung. Pertama, screening atau penapisan. Displasia sering ditemukan pada usia 20 tahun. Karsinoma in situ pada usia 15-35 tahun dan kanker serviks pada perempuan invasif usia 40 tahun.
Kedua, lajang dan menikah pada usia muda dan meningkat dua kali lipat pada perempuan yang berhubungan seksual sebelum 16 tahun.
Ketiga, peran pasangan pria. Perempuan yang menikah dengan pria yang (mantan) istrinya menderita kanker mulut rahim, akan tertular pula. Keempat, karakteristik reproduksi dan menstruasi.
Jelaga dan Rempah-rempahKanker mulut rahim ini, selain dengan tata cara medis, dapat juga diobati dengan jelaga dan rempah-rempah.
Cara alternatif ini digunakan oleh Nyai Syarifa, salah seorang terapis yang berpraktik di Jalan Dewi Sartika Nomor 6, Cililitan Kecil, jakarta Timur. Ia menggunakan minyak jelaga untuk mengetahui penyakit apa yang sedang diderita oleh si pasien.
Sebelum diobati, pasien terlebih dahulu berkonsultasi dengan Nyai Syarifa. Setelah itu Nyai Syarifa mengoleskan minyak jelaga ke salah satu kuku ibu jarinya. Dari situlah Nyai Syarifa mengetahui letak penyakit yang diderita oleh pasien. Setelah mengetahui sumber penyakitnya, Nyai Syarifa memijat perut atau letak di mana kanker mulut rahim itu berada. Pijatan berfungsi untuk meralakskan pasien.
Selain dengan minyak jelaga dan pijatan, Nyai Syarifa juga menggunakan ramuan khusus. Ramuan itu diolah dari berbagai bahan alami atau campuran herbal, antara lain rumput laut dan sambiloto. Setelah diracik, ramuan herbal itu dikemas dalam dua bentuk yaitu kapsul dan godokan atau yang dikeringkan. Yang berbentuk kapsul dapat langsung diminum. Sementara untuk yang godokan, pasien harus merebusnya terlebih dahulu sebelum diminum. Godokan herbal ini dapat digunakan dalam jangka waktu 2 bulan.
Terakhir, Nyai Syarifa memberikan air kebatinan. “Setelah herbal sudah 2 bulan dipakai, pasien harus datang lagi dan mengambil ramuan herbal kembali untuk dua bulan berikutnya,” ungkapnya. Selama menjalani pengobatan, pasien diwajibkan datang ke tempat praktik Nyai Syarifa sekali seminggu. “Saya ingin menyembuhkan pasien dengan total,” tambahnya.
sumber: Genie/Genie/tty, Okezone.com

Flu Babi Menyebar Dengan Sekali Bersin

Diposting oleh Boe--DhY cUtE on Senin, April 27, 2009 komentar (0)


Senin, 27 April 2009 - 13:57 wib
TEXT SIZE :
Rachmatunnisa - Okezone


LONDON - Perubahan cuaca dan suhu bumi berdampak pula pada penyebaran berbagai virus penyakit. Salah satunya adalah virus flu babi yang tengah menjadi perhatian masyarakat dunia. Flu babi disebabkan oleh endemis Orthomyxoviruses yang berasal dari populasi babi. Virus ini dikenal dengan nama H1N1 dan bisa menyebar begitu cepat. Manusia yang sudah terinfeksi virus ini bisa menyebarkan virus kepada orang lain hanya dengan satu kali bersin.Bayangkan saja dalam satu kali bersin terdapat lebih dari 100.000 virus yang bisa menempel dimana saja di sebuah ruang publik, dan berpotensi menyebarkan penyakit kepada orang yang menyentuh benda-benda yang terkena bersin, demikian yang dilansir melalui Huffington Post, Senin (27/4/2009). Ilmuwan Inggris mengatakan sekira sepuluh persen dari populasi di sebuah tempat umum berpotensi mengalami kontak dengan virus melalui bersin. Artinya, satu kali bersin dapat membuat sekira 150 orang terkena flu babi. Maka tak heran jika Organisasi Kesehatan Dunia, WHO saat ini tengah gencar menahan laju penyebaran virus yang telah menginfeksi 20 orang di Amerika dan membunuh 80 orang Mexico."Virus ini berpotensi menjadi pandemi di seluruh dunia. Pasalnya virus ini dapat menyebar dengan cepat dari manusia ke manusia," demikian ujar Margaret Chan, Direktur Umum WHO. (srn)

Enam Langkah Atasi Ancaman Flu Babi

Diposting oleh Boe--DhY cUtE on Senin, April 27, 2009 komentar (0)

Enam Langkah Atasi Ancaman Flu Babi
Jakarta – Menghadapi maraknya kasus flu babi (swine flu) pada manusia di Meksiko dan Amerika Serikat (AS) yang dikhawatirkan masuk ke Indonesia, Departemen Kesehatan (Depkes) menetapkan enam langkah untuk kesiapsiagaan.

Keenam langkah tersebut, yaitu
(1) mengumpulkan data dan kajian ilmiah tentang penyakit ini dari berbagai sumber,
(2) berkoordinasi dengan WHO untuk memantau perkembangan,
(3) membuat surat edaran kewaspadaan dini,
(4) melakukan rapat koordinasi dengan para kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan,
(5) berkoordinasi dengan Badan Litbangkes untuk kemungkinan pemeriksaan spesimen, dan
(6) berkoordinasi dengan Departemen Pertanian (Deptan) dan Departemen Luar Negeri (Deplu)

untuk merumuskan langkah-langkah tindakan penanggulangan.Pernyataan itu disampaikan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Dirjen P2PL) Departemen Kesehatan, Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, SpP, MARS, melalui surat elektronik yang disampaikan Kepala Pusat Komunikasi Publik, Depkes dr Lily S Sulistyowati, MM di Jakarta, Minggu (26/4).Tjandra meminta seluruh Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan seluruh Indonesia meningkatkan kewaspadaan dengan mengaktifkan dan memastikan pemindai panas tubuh (thermal scanner) bekerja baik dan mengaktifkan sistem yang ada untuk memantau orang yang masuk melalui bandar udara (bandara) maupun pelabuhan laut, serta berkoordinasi intensif dengan rumah sakit rujukan di tempat masing-masing.
Di samping itu, Depkes juga telah berkoordinasi dengan Dirjen Peternakan Departemen Pertanian RI untuk mengantisipasi penyebaran flu babi melalui tim koordinasi yang sudah ada. Tim koordinasi yang sudah ada, seperti Tim Penanggulangan Rabies Depkes dan Deptan yang tugasnya diperluas menjadi Tim Terpadu Penanggulangan Zoonotik (penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia).Dirjen P2PL melalui surat edaran meminta kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala UPT di lingkungan Ditjen P2PL dan RS Vertikal melalui surat nomor PM.01.01/D/I.4/1221/209 untuk melakukan langkah-langkah, antara lain mewaspadai kemungkinan masuknya virus tersebut ke wilayah Indonesia dengan meningkatkan kesiapsiagaan di pintu-pintu masuk negara, terutama pendatang dari negara-negara yang sedang terjangkit.
DKI Siaga Dinas Peternakan Jakarta juga menyatakan pihaknya siaga mengantisipasi flu babi, meskipun saat ini Jakarta masih terbebas dari flu babi. Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Jakarta, Edy Setiarto, menegaskan hal itu kepada SH, Minggu (26/4) sore. Peternakan babi di Jakarta hanya satu lokasi, yakni di Kapuk, Jakarta Barat sehingga mudah mengawasi dan mengisolasi dibandingkan dengan peternakan ayam yang banyak bertebaran di berbagai wilayah Jakarta.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) memperketat peredaran daging babi dari perbatasan Negara Bagian Sarawak, Federasi Malaysia. Kepala Dinas Kehewanan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat Abdul Manaf Mustafa menjelaskan, sejumlah petugas karantina hewan telah diperintahkan untuk meningkatkan kewaspadaan penuh.
Selain melakukan penjagaan terhadap masuknya daging babi asal Meksiko yang dapat menyebabkan tertularnya flu babi ke babi di dalam peternakan negeri, pemerintah dalam hal ini Kedutaan Besar Indonesia di Meksiko, harus mengeluarkan sertifikat kesehatan bebas dari virus flu babi bagi warga Meksiko yang ingin berkunjung ke Indonesia. “Hal tersebut mutlak diperlukan karena virus flu babi hingga saat ini tidak ditemukan di Indonesia,” kata dokter sekaligus dokter hewan, Mangku Sitepu, ketika dihubungi SH, Senin. “Di Indonesia tidak ada flu babi, baik pada peternakan babi di Indonesia maupun pada manusia. Penyakit ini tidak menular melalui daging atau makanan, tetapi pernapasan,” jelasnya.Menurut Mangku, flu babi di Meksiko tidak berasal dari babi, meskipun awalnya memang berasal dari babi ke manusia. Namun, lanjutnya, setelah mengalami mutasi maka saat ini menular dari manusia ke manusia. Selain Meksiko, ia mencatat, wabah flu babi juga telah menyerang di AS, di mana sebanyak 75 orang di New York terjangkit penyakit tersebut, serta di Selandia Baru. Saat dihubungi terpisah, Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana menekankan pentingnya pemerintah lebih mengoptimalisasi peranan dokter hewan di Indonesia. Hal tersebut, sambungnya, sebab profesi tersebut yang memiliki otoritas dalam mengeluarkan langkah-langkah mencegahan flu babi maupun penyakit lainnya yang bersifat menular pada manusia (zoonozist). (heru guntoro/web warouw/andreas piatu/aju/effatha)

Copyright © Sinar Harapan 2008

Harry Potter And The Half Blood Prince - Official Trailer [HD]

Diposting oleh Boe--DhY cUtE on Senin, April 27, 2009 komentar (0)

http://www.youtube.com/watch?v=wclDW5nAaBc

tu ..... link buat ke trailer nya harry potter yang baru..... keren abis..........

kartini.... namamu kan selalu ada disetiap hati para wanita

Diposting oleh Boe--DhY cUtE on Senin, April 20, 2009 komentar (0)


Pembicaraan tentang Kartini seakan-akan tidak pernah habis-habisnya. Berbagai penulis di luar dan dalam negeri menyorotinya dari berbagai aspek dengan berbeda perspektif dan kepentingan.

Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – wafat di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun). Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara. Beliau putri R.M. Sosroningrat dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa.

Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Agama Kartini
Aspek spiritual keagamaan tokoh emansipasi ini mendapatkan berbagai ragam penilaian dan pandangan, dengan presfektif dan kepentingan yang beragam, bisa dilihat dari sisi kejawen, komunis, Islam, dan Kristiani. Sebagaimana terlihat dari tiga buku yang ditulis tentang Kartini.
1. Pertama, Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramoedya Ananta Toer (1962, cetak ulang tahun 2000);
2. Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia yang ditulis Ahmad Mansur Suryanegara (1995); dan
3. Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini oleh Th Sumartana (1993). Tulisan ini juga menyinggung artikel St Sunardi, Ginonjing: Emansipasi Kartini pada majalah Kalam (No 21, 2004).

Sinkretisme

Ada usaha untuk menggambarkan figur Kartini sebagai wanita yang menganut faham sinkretisme. Kartini mengatakan bahwa ia anak Budha, dan sebab itu pantang daging. Suatu waktu ia sakit keras, dokter yang dipanggil tak bisa menyembuhkan. Lalu datanglah seorang narapidana Cina yang menawarkan bantuan mengobati Kartini. Ayah Kartini setuju. Ia disuruh minum abu lidi dari sesaji yang biasa dipersembahkan kepada patung kecil dewa Cina. Maka ia dianggap sebagai anak dari leluhur Santik-kong dari Welahan. Setelah minum abu lidi persembahan untuk patung Budha itu, Kartini memang sembuh. Ia sembuh bukan karena dokter, tapi oleh obat dari ”dukun” Budha. Sejak itu Kartini merasa sebagai ”anak” Budha dan pantang makan daging.

Pramoedya menulis, ”Bagi Kartini semua agama sama, sedangkan nilai manusia terletak pada amalnya pada sesamanya, yaitu masyarakatnya.” Kartini menemukan dan mengutamakan isi lebih daripada bentuk-bentuk dan syariat-syariat, yaitu kemuliaan manusia dengan amalnya pada sesama manusia seperti dibacanya dalam rumusan Multatuli: ”Tugas manusia adalah menjadi Manusia, tidak menjadi dewa dan juga tidak menjadi setan”.

Menurut Kartini, ”Tolong-menolong dan tunjang-menunjang, cinta- mencintai, itulah nada dasar segala agama. Kalau saja pengertian ini dipahami dan dipenuhi, agama akan menguntungkan kemanusiaan, sebagaimana makna asal dan makna keilahian daripadanya: karunia.” (hlm 235). Sebelumnya Kartini telah menegaskan, ”Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani maupun sebagai Islam, dan lain-lain.” (hlm 234)

Kartini dan Alquran

Di dalam buku Menemukan Sejarah: Wacana Pergerakan Islam di Indonesia terdapat sebuah bab yang berjudul ‘Pengaruh Al Quran terhadap Perjuangan Kartini’. Pandangan Kartini tentang Islam disoroti secara positif. ”Segenap perempuan bumiputra diajaknya kembali ke jalan Islam. Tidak hanya itu, Kartini bertekad berjuang, untuk mendapatkan rahmat Allah, agar mampu meyakinkan umat agama lain memandang agama Islam, agama yang patut dihormatinya” (surat kepada Ny van Kol, 21 Juli 1902.)

Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, Ny. Van Kol berusaha mengajak Kartini beralih kepada agama Kristen. Namun hal ini ditolak oleh sang putri Bupati Jepara itu. Bahkan ia mengingatkan zending Protestan agar menghentikan gerakan Kristenisasinya. Jangan mengajak orang Islam memeluk agama Nasrani.

Sejak lama Kartini resah sebab tidak mampu mencintai Alquran karena Alquran terlalu suci, tiada boleh diterjemahkan ke dalam bahasa manapun. Di sini tiada seorang pun tahu bahasa Arab. Orang di sini diajarkan membaca Alquran, tetapi yang dibacanya tiada yang ia mengerti. Demikian pengakuan dirinya tentang kebutaannya terhadap Alquran kepada Stella Zeehandelaar (18 Agustus 1899). Kartini merindukan tafsir Alquran agar dapat dipelajari.

Betapa bahagianya Kartini setelah mendapat penjelasan kandungan isi Alquran, seperti digambarkannya kepada EC Abendanon, ”Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaaan di samping kami”. Dirasakannya ada semacam perintah Allah kepada dirinya, ”Barulah sekarang Allah berkehendak membuka hatimu, mengucap syukurlah!”

”Sekarang ini kami tiada mencari penghibur hati pada manusia, kami berpegang teguh teguh di tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi”. Kata habis gelap terbitlah terang selain tercetus 17 Agustus 1902 juga karena pengaruh cahaya yang menerangi lubuknya hatinya. Minazh zhulumati ilan nur Ini tafsiran Ahmad Mansur Suryanegara.

Akrab dengan Ajaran Kristen

Di dalam buku yang ditulis Th. Sumartana diakui bahwa Kartini lahir dan meninggal sebagai muslimat (hlm 67). Namun ia memiliki kedekatan dengan ajaran Kristen. Bagaimana pendapatnya tentang zending? Berbeda dengan uraian Ahmad Mansur Suryanegara, Th Sumartana melihat dari sudut pandang lain. Menurutnya, Kartini menganggap tidak jujur apabila zending memancing di air keruh dan mempropagandakan agama Kristen di tengah-tengah orang Jawa yang miskin, penuh penyakit dan bodoh, tanpa lebih dulu mendidik mereka, mengobati dan menolong mereka dari kemiskinan. Iman dan kepercayaan yang benar menurut Kartini hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang sudah benar-benar sadar memilih, dan mereka yang sudah dewasa (hlm 47). Jadi bagi Th Sumartana, persoalannya bukankah masalah mengkristenkan orang Islam, sebagaimana yang disoroti oleh banyak ulama.

Kartini menggambarkan bahwa ada hubungan yang dekat dan intim antara dirinya dengan Tuhannya. Kedekatannya dengan Tuhan tersebut pada gilirannya memperoleh gambaran tertentu yang diambil dari kehidupan keluarganya sendiri, yaitu hubungan antara bapak dan anak. Ia sendiri amat dekat dengan ayahnya, sekalipun dalam banyak perkara mereka tidak sependapat, hal itu tidak mengurangi rasa kasih sayang dan saling menghormati di antara mereka berdua.

Sebab itu ketika Ny van Kol mengintroduksi ungkapan ”Tuhan sebagai Bapa”, Kartini segera menyambutnya dengan semangat. Ungkapan tersebut dianggap tepat, sebagai cetusan pengalaman batinnya sendiri. Dengan demikian, dapat dipahami jikalau dalam surat-surat Kartini ungkapan Tuhan sebagai Bapa yang penuh kasih sayang tersebar di sana-sini. Dalam suratnya kepada Ny. van Kol tanggal 20 Agustus 1902, ia menulis: ”Ibu sangat gembira… beliau ingin sekali bertemu dengan Nyonya agar dapat mengucapkan terima kasih secara pribadi kepada Nyonya atas keajaiban yang telah Nyonya ciptakan pada anak-anaknya; Nyonya telah membuka hati kami untuk menerima Bapa Cinta Kasih!”

Pada surat lain, Kartini menulis ”Agama dimaksudkan supaya memberi berkah. Untuk membentuk tali persaudaraan di antara semua makhluk Allah, berkulit putih dan cokelat. Tidak pandang pangkat, perempuan atau lelaki, kepercayaan semuanya kita ini anak Bapa yang Satu itu, Tuhan yang Maha Esa!”

Dari Ny. van Kol pula Kartini belajar membaca Bibel dan mengerti sebagian dari beberapa prinsip teologis dari ajaran Kristen. Malahan turut pula mengambil alih beberapa kata yang punya arti tertentu dalam cerita Al-Kitab, seperti Taman Getsemani, tempat Yesus berdoa dan menderita sengsara.

Dalam surat kepada Ny. van Kol, Agustus 1901, Kartini menyebutkan bahwa derita neraka yang dialami oleh kaum perempuan itu disebabkan oleh ajaran Islam yang disampaikan oleh para guru agama pada saat itu. Agama Islam seolah membela egoisme lelaki. Menempatkan lelaki dalam hubungan yang amat enak dengan kaum perempuan, sedangkan kaum perempuan harus menanggungkan segala kesusahannya. Perkawinan cara Islam yang berlaku pada masa itu, dianggap tidak adil oleh Kartini. (hlm 41).

Itu bukan dosa, bukan pula aib; ajaran Islam mengizinkan kaum lelaki kawin dengan empat orang wanita sekaligus. Meskipun hal ini seribu kali tidak boleh disebut dosa menurut hukum dan ajaran Islam, selama-lamanya saya tetap menganggapnya dosa. Semua perbuatan yang menyebabkan sesama manusia menderita, saya anggap sebagai dosa. Dosa ialah menyakiti makhluk lain; manusia atau binatang. (hlm 41)

Kritik Kartini yang keras terhadap poligami mengesankan ia anti-Islam. “Tetapi sebetulnya tidak demikian,” ujar Haji Agus Salim. ”Suara itu haruslah menjadi peringatan kepada kita bahwa besar utang kita dan berat tanggungan kita akan mengobati kecelakaan dan menolak bahaya itu. Kepada marhumah yang mengeluarkan suara itu, tidaklah mengucapkan cela dan nista, melainkan doa mudah-mudahan diampuni Allah kekurangan pengetahuannya karena kesempurnaan cintanya kepada bangsanya dan jenisnya.” (hlm 43).

St. Sunardi, dosen Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta mengulas aspek emansipasi yang dilancarkan oleh Kartini yang mencakup emansipasi kelembagaan dalam bidang pendidikan, emansipasi keluarga, bahasa, dan olah rasa. Ginonjing adalah nama gending kegemaran Kartini dan adik-adiknya yang menggambarkan pengalaman batin yang tidak menentu. Ada suasana muram saat Kartini mengunyah ide emansipasi di Eropa dan membandingkan dengan keadaan di Jepara saat itu. ”Siapa pun yang terpilih oleh nasib menjadi ibu ruhani untuk melahirkan yang baru harus menanggung derita. Ini adalah hukum alam siapa yang melahirkan harus menanggung kesakitan saat melahirkan bayi yang teramat sangat kami cintai.”

Ternyata kemudian Kartini tidak jadi belajar ke negeri Belanda. Ia menerima lamaran Bupati Rembang yang sudah beristri tiga dan punya anak tujuh. Kartini memang manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Namun wacana tentang perempuan yang satu ini masih tetap hidup, baik di kalangan penganut aliran kepercayaan, Islam, Protestan, Katholik, dan komunis, dengan berbagai versi dan beraneka kepentingan.

Episode akhir hidup Raden Adjeng Kartini

“Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?“

Pertanyaan ini diajukan Kartini kepada Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar, atau lebih dikenal dengan Kyai Sholeh Darat, ketika berkunjung ke rumah pamannya Pangeran Ario Hadiningrat, Bupati Demak. Waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga dan Kartini ikut mendengarkan bersama para raden ayu lainnya dari balik tabir. Karena tertarik pada materi pengajian tentang tafsir Al-Fatihah, setelah selesai Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kyai tersebut.

Tertegun mendengar pertanyaan Kartini, Kyai balik bertanya,

“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?“

“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama (Al-Fatihah), dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?“

Ibu Kartini muda yang di kala itu belajar Islam dari seorang guru mengaji, memang telah lama merasa tidak puas dengan cara mengajar guru itu karena bersifat dogmatis dan indoktrinatif. Walaupun kakeknya Kyai Haji Madirono dan neneknya Nyai Haji Aminah dari garis ibunya, M. A. Ngasirah adalah pasangan guru agama, Kartini merasa belum bisa mencintai agamanya. Betapa tidak? Beliau hanya diajar bagaimana membaca dan menghapal Al-Qurâ’an dan cara melakukan shalat, tapi tidak diajarkan terjemahan, apalagi tafsirnya. Pada waktu itu penjajah Belanda memang memperbolehkan orang mempelajari Al-Qurâ’an asal jangan diterjemahkan.

Tergugah dengan kritik itu, Kyai Sholeh Darat kemudian menterjemahkan Al-Qurâ’an dalam bahasa Jawa dan menuliskannya dalam sebuah buku berjudul Faidhir Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu dihadiahkan kepada Ibu Kartini saat beliau menikah dengan R. M Joyodiningrat, Bupati Rembang pada tanggal 12 November 1903.

Kyai Sholeh Darat keburu meninggal pada tanggal 18 Desember 1903 pada saat baru menterjemahkan satu jilid tersebut. Namun dari informasi Ilahi yang tampaknya terbatas itu pun sudah cukup membuka pikiran Ibu Kartini mengenai Islam dan ajaran-ajarannya.

Salah satu hal yang memberikan kesan mendalam pada beliau adalah ketika membaca tafsir Surat Al-Baqarah. Dari situlah tercetus kata-kata beliau dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Tot Licht. Ungkapan itu sebenarnya terjemahan bahasa Belanda dari petikan firman Allah Subhanahu wa Ta`ala yaitu Minadz Dzulumaati Ilan Nuur yang terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 257. Oleh Armijn Pane, ungkapan itu diterjemahkan dalam bahasa Melayu atau Indonesia sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang. Padahal jika berangkat dari petikan firman Allah Subhanahu wa Ta`ala tersebut lebih tepat dimaknai sebagai Dari Kegelapan Menuju Cahaya, yang dapat ditafsirkan sebagai �dari pemikiran yang tak terarah menuju pemikiran yang dilandasi hidayah Iman dan Islam�.

Petikan firman Allah Subhanahu wa Ta`ala dalam Surat Al-Baqarah ayat 257 tersebut sebenarnya untuk menggambarkan kondisi kejiwaan seseorang yang mendapat hidayah Iman dan Islam, di mana dia mendapatkan informasi yang sangat terang dan masuk dalam kalbunya mengenai kebenaran yang hakiki dari Tuhannya. Kondisi seperti itulah yang dialami oleh Ibu Kartini menjelang akhir hidupnya.

Oleh sebab itu penulis membagi perjalanan hidup Ibu Kartini yang mengalami pencerahan dalam dua fase, yaitu fase pra dan selama-pasca mendapat hidayah. Momen perubahannya adalah pada saat beliau menghadiri pengajian tafsir Al-Qur’an yang diberikan oleh Kyai Sholeh Darat tersebut.

Dalam fase pertama, yaitu fase pra-hidayah, Ibu Kartini mendapat pencerahan tentang perlunya mendobrak adat-adat lokal, baik perilaku yang mengistimewakan keturunan ningrat daripada keturunan rakyat biasa maupun yang mengekang hak-hak wanita pada umumnya. Menurut beliau, setiap manusia adalah sederajat dan mereka berhak mendapat perlakuan yang sama. Sedangkan khusus untuk wanita, mereka memiliki hak misalnya untuk memperoleh pendidikan sekolah, hak untuk melakukan aktivitas keluar rumah, hak untuk memilih calon suami. Namun di lain pihak Ibu Kartini juga berusaha untuk menghindar dari pengaruh budaya Barat walaupun juga mengakui bahwa perlu belajar dari Barat karena lebih maju dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Dalam fase ini Ibu Kartini juga mengajukan kritik dan saran kepada Pemerintahan Hindia Belanda.

Dalam fase kedua, yaitu selama dan pasca mendapatkan hidayah, beliau mendapat pencerahan tentang agama yang dianutnya, yaitu Islam. Bahwa Islam, jika ajaran-ajarannya diikuti dengan benar sesuai dengan Al-Qur’an, ternyata membawa kehidupan yang lebih baik dan memiliki citra baik di mata umat agama lain. Ibu Kartini menulis dalam surat-suratnya, bahwa beliau mengajak segenap perempuan bumiputra untuk kembali ke jalan Islam. Tidak hanya itu, Kartini bertekad berjuang untuk mendapatkan rahmat Allah, agar mampu meyakinkan umat lain memandang agama Islam sebagai agama yang patut dihormati.

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai” [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

Klimaksnya, nur hidayah itu membuatnya bisa merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh kebanyakan pejuang feminisme dan emansipasi, namun untuk lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai ibu. Ibu Kartini menulis: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Pikiran beliau ini mengalami perubahan bila dibandingkan dengan pada waktu fase sebelum hidayah, yang lebih mengedepankan keinginan akan bebas, merdeka, dan berdiri sendiri. Ibu Kartini menulis: “Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata “Emansipasi” belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi dikala itu telah hidup di dalam hati sanubarai saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.” [Surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899].

Tidak hanya itu, nur hidayah itu juga bisa menyebabkan perubahan sikap beliau terhadap Barat yang tadinya dianggap sebagai masyarakat yang paling baik dan dapat dijadikan contoh. Ibu Kartini menulis, “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902].

Dan yang lebih penting lagi, beliau menjadi sadar terhadap upaya kristenisasi secara terselubung yang dilakukan oleh teman-temannya. Ibu Kartini menulis, “Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi?… Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” [Surat Kartini kepada E. E. Abendanon, 31 Januari 1903].

***

Allah Subhanahu wa Ta`ala Maha Berkehendak dengan menggariskan hidup Ibu Kartini yang terbilang cukup pendek, 25 tahun, yaitu empat hari setelah melahirkan putranya, R. M. Soesalit. Dia juga mentakdirkan hidup Kyai Sholeh Darat tidak cukup panjang untuk menuntaskan buku tafsir Al-Qurâ’an dalam bahasa Jawanya, sehingga informasi mengenai Al-Qurâ’an yang diterima oleh Ibu Kartini masih terbatas. “Manusia itu berusaha, Allah-lah yang menentukan” [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, Oktober 1900].

Namun sebenarnya itu sudah cukup untuk memberikan gambaran bagaimana sebenarnya visi Ibu Kartini sebagai sosok muslimah, terutama pada masa-masa akhir hidupnya, yaitu fase selama dan pasca hidayah. Itu pun juga cukup bagi kita untuk bisa memahami mengapa beliau pada akhirnya merasa ikhlas menjadi isteri keempat Bupati Rembang, yang kemudian justru mendukung semua cita-cita perjuangannya dalam pendidikan terhadap kaum wanita, yaitu dengan mendirikan sekolah wanita di Kabupaten Rembang. Kartini menulis mengenai suaminya, “Akan lebih banyak lagi yang saya kerjakan untuk bangsa ini bila saya ada di samping seseorang laki-laki yang cakap, yang saya hormati, yang mencintai rakyat rendah sebagai saya juga. Lebih banyak, kata saya, daripada yang dapat kami usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri. “ ? [Habis Gelap Terbitlah Terang, hlm. 187].

Dan itu juga cukup untuk dapat kita bayangkan, bahwa (semoga) Ibu Kartini wafat dalam keadaan husnul khotimah, setelah sebelumnya diombang-ambingkan oleh berbagai pemikiran teman-temannya, dan walaupun banyak orang mengulas kumpulan tulisannya dari berbagai sudut pandang dan agama.

Namun yang juga sangat penting buat kita muslimah generasi penerusnya adalah pesan-pesan beliau secara tersirat agar kembali kepada fitrahnya dan selalu berpegang pada Al-Qurâ’an (dan Hadits). Al-Qurâ’an harus selalu dibaca, dipelajari, dihapalkan, dimengerti maknanya, dan diamalkan, agar benar-benar meninggalkan kegelapan menuju cahaya. Ajakan beliau ini lebih mendasar dan tentu lebih bermanfaat daripada mengedepankan isu-isu tentang feminisme dan kesetaraan gender, misalnya yang pada dasarnya merupakan konsep Barat. Lagipula, sikap yang mempercayai bahwa sesuatu yang berasal dari Barat itu paling baik, justru digugat oleh Ibu Kartini sendiri.

Allah Yang Maha Bijaksana menurunkan Al-Qurâ’an, di mana salah satu kehendak-Nya adalah justru untuk mengangkat harkat dan martabat wanita. Pada dasarnya, gerakan emansipasi perempuan dalam sejarah peradaban manusia sebenarnya dipelopori oleh risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi wa Sallam tersebut.

Hingga di sini, marilah kita merenung kembali, apakah kita semua telah mengikuti pesan dan teladan Ibu Kartini tersebut?

dari berbagai sumber
sumber buku : Seabad Kontroversi Sejarah, Asvi Warman Adam, Ombak, 2007, hal 14 - 20.

http://serbasejarah.wordpress.com/2009/04/08/membaca-kembali-jejak-ra-kartini/


senyum menjadi OBAT bosan.....

Diposting oleh Boe--DhY cUtE on Selasa, April 14, 2009 komentar (0)


tau sendiri kan yang namanya dikantor.... bete banget rasanya hari ini..... tapi tunggu2..... sms diterima..... setelah dibukan...jreng..jreng...... dari cowokku.... jadi ketawa ketiwi nie..... oke reply .... sent n sukses.... yah nunggu jam pulang nge blog dulu nie.... n ngga sengaja... dapet artikel yang menarik....


Manfaat SENYUM

1. Senyum membuat Anda lebih menarik. Orang yang banyak tersenyum memiliki daya tarik. Orang yang suka tersenyum membuat perasaan orang disekitarnya nyaman dan senang. Orang yang selalu merengut, cemburut, mengerutkan kening, dan menyeringai membuat orang-orang disekeliling tidak nyaman. Dipastikan orang yang banyak tersenyum memiliki banyak teman.
2. Senyum mengubah perasaan. Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan membuat perasaan menjadi lebih baik. Menurut penelitian, senyum bisa memperdayai tubuh sehingga perasaan berubah.
3. Senyum menular. Ketikan seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang. Orang disekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia
Senyum menghilangkan stres. Stres bisa terlihat di wajah. Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah, bosan, dan sedih. Ketika anda stres,ambil waktu untuk tersenyum. Senyuman akan mengurangi stres dan membuat pikiran lebih jernih.
4. Senyum meningkatkan imunitas. Senyum membuat sistem imun bekerja lebih baik. Fungsi imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks. Menurut penelitian, flu dan batuk bisa hilang dengan senyum
5. Senyum menurunkan tekanan darah. Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat anda tidak tersenyum dan catat lagi tekanan darah saat anda tersenyum saat diperiksa. Tekanan darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah.
6. Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin. Senyum ibarat obat alami. Senyum bisa menghasilkan endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin. Ketiganya adalah hormon yg bisa mengendalikan rasa sakit.
7. Senyum membuat awet muda. Senyuman menggerakkan byk otot . Akibatnya otot wajah terlatih sehingga anda tidak perlu melakukan face lift. Dijamin dengan byk tersenyum Anda akan terlihat lebih awet muda.
8. Senyum membuat Anda kelihatan sukses. Orang yg tersenyum terlihat lebih percaya diri,terkenal, dan bisa diandalkan. Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien. Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik.
9. Senyum membuat orang berpikir positif. Coba lakukan ini : pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah. Penyebabnya, ketika Anda tersenyum,tubuh mengirim sinyal "hidup adalah baik". Sehingga saar tersenyu,, tubuh menerimanya sebagai anugrah.

wah banyak bgt nie manfaat senyum.... tapi kalo keseringan senyum.... n ngga tau senyum ma siapa ... lama2 dikira .... g*l*.. he..he....

http://www.perawatonline.com/index.php/artikel-keperawatan/20-tips-kesehatan/36-manfaat-senyum